Akhir tahun merupakan waktu yang
begitu aku nanti-nanti. Bukan karena perayaan tahun baru yang membuat aku
begitu antusias dalam menanti akhir tahun. Tetapi ada satu momen yang mungkin tidak akan pernah aku
lupakan sampai kapanpun. Momen itu bernama peringatan gempa dan tsunami Aceh.
Tidak terasa waktu mengalir
begitu cepat, 11 tahun yang lalu tepatnya tanggal 26 desember 2004 Aceh
benar-benar hancur porak poranda tidak menentu. Aku menjadi anak yatim piatu,
kedua orang tuaku hilang bersama puing-puing bangunan yang tersapu bersih oleh
derasnya air laut pantai barat selatan Aceh itu. Jenazah kedua orang tuaku
entah kemana, rumahku hancur rata dengan tanah, sekolahku yang tinggal hanyalah nama, benar-benar sebuah keadaan yang membuat
aku hampir putus asa.
Meski pahit, bencana dahsyat itu
bukan untuk diratapi. Banyak hikmah yang Tuhan berikan melalui bencana alam tersebut. Perdamaian pertingkaian antara RI dan GAM menjadi salah
satu contohnya. Seandainya Aceh tidak damai dari perang saudara itu, akan
banyak tempat-tempat wisata di Aceh yang akan terabaikan begitu saja.
Hari ini kalender tepat pada
tanggal 26 desember 2015. Sudah menjadi tradisi bagi rakyat Aceh pada setiap tahunnya
untuk memperingati gempa dan tsunami tersebut. Aku sebagai putra asli Aceh dan
juga seorang korban bencana tsunami rasanya tidak begitu lengkap jika aku tidak
mengenang bencana itu.
Aku bergegas memasukkan baju kedalam
ransel yang berukuran sedang dari lemari kecil yang berdiri disudut
kamarku. Tujuanku hanya satu, aku ingin sekali berkunjung ke Banda Aceh meski
jaraknya lumayan jauh dari kampungku dibagian Meulaboh. Banda Aceh akan menjadi
tempat yang tepat bagiku untuk mengenang bencana besar itu. Aku mengambil
sepeda motor putihku yang terparkir rapi di halaman rumah, aku memacunya gagah
dengan ransel menempel indah di punggungku. Aku mampir sejenak di SPBU
Calang untuk mengisi bahan bakar
kendaraanku.
Butuh waktu 3 jam perjalanan
untuk sampai di ibukota provinsi Aceh tersebut. Jalanan luas terbentang bebas
dari lobang membuat sensasi perjalanan darat begitu menyenangkan. Pemandangan
indah pantai Aceh begitu memanjakan mata. Bukit-bukit kecil menanjak
dikelilingi perkebunan duren terasa sangat sejuk. Ditambah lagi dengan pesona
indahnya pemandangan laut dari atas gunung gurutee
membuat perjalanan begitu singkat.
Tak terasa aku akhirnya sampai
juga di kota Banda Aceh. Jam sudah menunjukkan pukul 2 siang, aku memutuskan
untuk melaksanakan shalat zuhur di Masjid Ulee lheu Banda Aceh. Masjid itu
menjadi salah satu saksi bisu begitu kerasnya hantaman ombak besar yang menelan
ratusan ribu jiwa itu.
Suasana di Masjid yang pernah
dikunjungi oleh mega bintang sepakbola Cristiano
Ronaldo itu begitu tenang, aku sangat menikmati menjalankan salah satu kewajibanku
sebagai seorang muslim disana.Setelah melaksanakan shalat aku bergegas keluar.
Jalanan didepan bagitu padat, banyak orang hilir mudik memasuki gerbang menuju
pelabuhan penyebrangan Banda Aceh – Sabang.
Aku menatap ke arah kuburan
massal yang berjarak sekitar 150 meter dari Masjid Ulee Lheu. Banyak orang
keluar masuk ke komplek makam massal korban bencana alam gempa dan tsunami
tersebut. Aku melangkah menuju kesana. Sengatan panas sinar matahari tidak aku
hiraukan, langkah kakiku begitu bersemangat untuk sesegera mungkin sampai
disana. Sesampai di komplek makam tersebut aku hanya menatap dengan tatapan
kosong ke arah hamparan luas tanah yang sudah ditumbuhi rumput itu. Mulutku
terbungkam, mata aku sudah mulai berkaca-kaca. Aku terduduk diam diatas tembok
yang roboh sisa tsunami sebelas tahun yang lalu. Aku benar-benar tidak bisa
menahan diri, aku menghusap air mata yang mulai jatuh membasahi kedua pipiku.
Sebisa mungkin aku menyembunyikan perasaan sedihku agar tidak dilihat oleh
orang-orang yang sedang berdo’a dimakam itu. Aku bangun dari dudukku, aku tidak
sanggup menahan sedih, aku pergi keluar mengambil sepeda motorku.
Aku menancap gas lagi, tujuan aku
berikutnya adalah satu komplek perumahan yang terletak di tengah-tengah kota
Banda Aceh. Disana terdapat sebuah kapal apung pembangkit listrik besar,
mungkin bagi orang yang pertama sekali melihatnya akan terlihat aneh, sangat
sulit dipercaya. Bagaimana mungkin kapal sebesar itu bisa berada
ditengah-tengah pemukiman warga. Tetapi sekarang semua nampak nyata, kapal yang
tadinya bersandar di pelabuhan Ulee Lheu itu terhempas kurang lebih 3 kilometer
dari posisi awal dia berada disaat tsunami tiba.
Kapal yang berbadan besar kini
sudah disulap menjadi objek wisata tsunami oleh pemerintah kota Banda Aceh
karena tidak ada cara untuk membawa kapal itu kembali keposisi awal dia berada
di pelabuhan Ulee Lheu.
Disekitaran kapal apung tersebut
terdapat taman yang begitu indah, didalam taman tersebut terdapat jalan yang
terbuat dari susunan papan, diujung jalan terdapat sebuah tembok besar tempat
ditempelnya foto-foto kenangan ketika Aceh masih porak-poranda karena tsunami.
Di bagian depan pintu gerbang masuk komplek kapal apung terdapat sebuah tugu
jam berukuran lumayan besar yang dibuat seolah-olah sedang digulung oleh ombak
besar. Jarum pada jam tersebut menunjukkan pukul delapan kurang lima menit.
Angka delapan kurang lima menit itu merupakan detik-detik terjadi tsunami di
Aceh. Disamping tugu itu terdapat jalan gantung yang di tompang dengan besi
untuk akses menuju ke atas kapal apung. Dari atas kapal apung kita bisa melihat
setiap sudut kota Banda Aceh dari ketinggian, hamparan lautan luas juga begitu
memanjakan mata, museum tsunami karya Ridwan Kamil walikota Bandung juga terlihat
begitu mewah di dekat taman kota Banda Aceh, Masjid Raya Baiturrahman tujuan
wisatawan dalam dan luar negeri juga terlihat jelas disana.
Merasa sudah puas mutar-mutar di
kapal PLTD apung. Aku melanjutkan perjalanan akhir tahunku menuju sebuah gedung
megah yang berdiri disudut jalan blang padang. Gedung yang mirip dengan bentuk
perahu itu dikenal dengan sebutan dengan Museum tsunami. Letak museum tsunami
tidak jauh dari PLTD apung, hanya butuh beberapa menit saja untuk menuju museum
tsunami dari kapal apung.
Museum tsunami selalu penuh
dikunjungi oleh wisatawan. Ketika sampai di pintu museum, pengunjung akan
dibawa merasakan nuansa mencekam di dalam lorong kegelapan, tidak ada lampu
penerang disana, hanya terdengar sayup-sayup suara lantunan ayat suci Al-Qur’an
diiringi dengan suara air yang sengaja dialiri di sisi kiri dan kanan tembok
lorong yang kita lewati itu.
Setelah melewati lorong yang
sangat gelap itu. Pengunjung akan bertemu dengan sebuah ruangan yang terbentang
luas. Diruangan itu terdapat banyak sekali layar elektronik yang menampilkan
foto-foto ketika Aceh masih berduka di saat Tsunami 2004 silam. Aku memilih
tidak melihat layar elektronik tersebut. Hatiku benar-benar belum sepenuhnya
kuat kehilangan kedua orang tua disaat usia aku masih terlalu muda. Aku memilih
terus melangkah ke bagian atas gedung yang bewarna abu-abu itu. Jalan untuk
menuju ke atas menanjak dan sedikit berkelok layaknya jalan raya. Disisi kiri
jalan akses menuju ke atas terdapat sebuah ruangan yang sedikit bundar, di
dinding ruangan itu terpajang nama-nama korban tsunami yang hilang entah
kemana. Dibagian atas ruangan itu terdapat sebuah corong layaknya corong yang
terdapat pada kapal. Jika kita menatap ke atas akan terlihat jelas di ujung
corong tersebut terdapat kaligrafi nama Allah. Benar-benar sebuah gedung kelas
dunia yang tidak menghilangkan ciri khas kehidupan sehari-hari orang Aceh yang
terkenal kental dengan agama dan budaya. Setelah puas aku melihat-melihat
ruangan yang penuh nama-nama manusia itu. Aku kembali melangkah menuju bagian
atas gedung museum. Sebelum benar-benar sampai dilantai atas, pengunjung
terlebih dahulu melewati sebuah jembatan beralaskan papan yang terpasang rapi yang
berdindingkan kaca bening. Dibawah jembatan itu terdapat sebuah kolam yang dikelilingi
oleh beton-beton bundar layaknya bola besar. Bendera-bendera dari berbagai
negara juga terpasang kuat dibagian langit-langit bangunan tepat di atas
jembatan. Melihat bendera itu aku menarik nafas dalam. Aku memetik pelajaran
penting dari bendera-bendera kecil yang terpasang berjajar itu, pelajaran
penting yang aku ambil adalah begitu pentingnya rasa persaudaraan antar umat
manusia meski ada banyak perbedaan yang tidak mungkin bisa disatukan.
Di bagian atas museum pengunjung
akan dimanjakan dengan berbagai alat simulasi tsunami. Dengan melihat itu kita
tidak hanya mendapatkan keuntungan jalan-jalannya tetapi juga mendapatkan berbagai
ilmu yang begitu sangat penting dalam menghadapi bencana alam yang bisa datang
kapan saja. Museum tsunami Aceh juga terdapat sebuah rauang teather yang
menampilkan video detik-detik terjadinya bencana gempa dan tsunami. Wajar saja
jika para wisatawan menjadikan museum tsunami Aceh sebegai salah satu tujuan
utamanya disaat berkunjung ke Provinsi yang terkenal dengan banyaknya kedai
kopi itu.
Setelah beberapa jam mutar-mutar
di museum tsunami. Aku kembali bergerak menuju Masjid kebanggaan rakyat Aceh
yaitu Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh. Untuk menuju ke Masjid Raya
Baiturrahman hanya butuh waktu 5 menit dari gedung museum tsunami. Disaat aku
melintas jalan Blang Padang aku sempat melihat sebuah tugu yang terdapat
pesawat diatasnya. Pesawat itu begitu spesial bagi rakyat Indonesia. Pesawat
tersebut merupakan sumbangan rakyat Aceh untuk Republik Indonesia dalam memperjuangkan kemerdekaan dari penjajahan
Belanda.
Sepanjang perjalanan aku sangat
menikmati nuansa kota yang terkenal dengan penerapan syari’at Islam itu, jalanan
di kota Banda Aceh begitu luas, sangat jarang terjadi kemacetan disana. Geliat
perputaran ekonomi juga begitu lancar. Pasar Aceh yang letaknya tepat
dibelakang Masjid Raya Baiturrahman selalu padat dikunjungi oleh masyarakat.
Tidak terasa aku sudah sampai di Masjid yang memiliki 5 kubah itu. Aku parkirkan
sepeda motorku di parkiran bagian selatan Masjid, aku bergegas mengambil wudhu
untuk menunaikan shalat ashar, aku sudah sangat telat untuk melaksanakan shalat
ashar, jam sudah menunjukkan pukul setengah enam.
Setelah melaksanakan shalat ashar
aku kembali keluar. Diluar orang begitu ramai, lebih ramai dari hari-hari
sebelumnya disaat aku berkunjung ke Masjid Raya baiturrahman. Hari ini mungkin
kenyamanan dan kesempatan untuk para wisatawan untuk menikmati bagian luar
masjid raya Baiturrahman sedikit terganggu. Masjid Raya Baiturrahman sedang
direnovasi besar-besaran dengan menelan biaya mencapai satu koma empat triliun
rupiah, rencananya Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh akan memiliki parkiran di
bawah tanah, di bagian depannya akan di bangun payung-payung raksasa layaknya
di Masjid Nabawi Madinah. Masjid Raya Baiturrahman akan dijadikan pusat kajian
Islam di serambi mekkah, proyek besar itu diperkirakan akan selesai tahun 2017
mendatang.
Meski sedang direnovasi, daya
tarik masjid yang menjadi saksi bisu tumbangnya seorang jenderal belanda yang
bernama Johan Harmen Rudolf Kohler ditangan pejuang Aceh pada 14 april 1873
silam tidak pudar. Masjid Baiturrahman benar-benar memiliki magnet yang sangat kuat
untuk membuat setiap orang yang datang ke Aceh untuk mampir disana, tidak hanya
orang yang beragama Islam saja yang mengunjungi bangunan yang akrab disapa
Masjid raya itu, tetapi umat beragama lain juga banyak yang mengunjunginya
meski hanya untuk sekedar foto-foto di halaman depannya saja. Halaman depan
Masjid raya sebelum direnovasi memiliki keindahan yang menurut aku hampir sama
dengan bangunan Taj Mahal di India. Di halaman Masjid raya terdapat sebuah
menara yang menjulang tinggi, menara itu sekarang sedikit miring akibat
goncangan gempa 2004 silam. Selain menara tinggi, Masjid raya juga memiliki
kolam pancuran air yang berukuran sedang, jika sore hari tiba disekeliling
kolam itu banyak anak-anak yang di dampingi oleh orang tuanya duduk disana,
mereka tidak hanya duduk diam, tetapi mereka asik bermain-main dengan ikan
air tawar yang terdapat di dalam kolam dengan cara menaburkan pakan yang dijual
oleh pedagang disekitaran komplek masjid.
Bagian depan Masjid Raya baiturrahman menjadi tempat favorit
bagi pengunjung untuk berselfie ria, sangking banyaknya yang gemar selfie
disana, rumput-rumput di pinggir kolam mati dengan sendirinya karena
keinjak-injak oleh pengunjung yang ingin berfoto dengan latar belakang Masjid
yang terdapat jam di bagian depan bangunannya itu.
Tidak terasa hari sudah hampir
magrib, suara merdu lantunan ayat Al-Qur’an yang dibacakan oleh Qori mulai
terdengar dari setiap sudut Masjid yang pernah dibakar oleh Belanda itu.
Orang-orang yang tadinya asik dengan kegiatannya masing-masing terlihat mulai
bergerak mencari tempat wudhu. Petugas Masjid terlihat memegang pengeras suara
sambil menyerukan para pengunjung untuk segera bergerak mengambil air wudhu.
Sambil melangkah ketempat wudhu,
aku melihat di pintu gerbang ada sebuah pemandangan menarik dan unik untuk disimak.
Disana berdiri seorang petugas berpakaian satpam membagikan kain sarung kepada
pengunjung wanita yang mengenakan celana yang terkesan ketat. Tidak ada
pemaksaan dari petugas, pengunjung wanita dengan rela tersenyum kecil menerima
kain sarung yang disodorkan oleh petugas. Mungkin bagi orang-orang yang baru
datang ke Aceh hal itu sedikit aneh, tetapi tidak bagi kami orang Aceh asli.
Orang Aceh sudah terbiasa dengan aturan seperti itu, karena Aceh punya aturan
tersendiri untuk menjalankan syari’at Islam. Ya meskipun belum berjalan
sempurna tetapi setidaknya pemerintah Aceh telah mencobanya.
Aku sudah tiba ditempat wudhu,
aku segera berwudhu, azan sudah berkumandang di dalam Masjid. Aku melangkah
masuk ke Masjid. Perasaan nyaman dan tenang muncul disaat menginjakkan kaki
disana. Shaf-shaf shalat bagian depan sudah terisi penuh. Aku berdiri di shaf
keenam bagian belakang menunggu iqamat. Masjid terus terisi oleh pengunjung
yang dari tadi masih diluar. Terlihat muazin berdiri mendekati mic untuk
iqamat. Orang-orang yang tadinya duduk semua bangkit untuk melaksanakan shalat
magrib secara berjamaah.
Aku melangkah maju ke shaf
kelima. Terdengar suara imam memerintahkan kepada jamaah semua untuk meluruskan
dan merapatkan shaf sebagai kesempurnaan shalat.
“lurus dan rapatkan shaf, mohon yang membawa hp untuk menonaktifkannya” begitu
kata imam yang berdiri dibagian depan.
Aku menoleh kiri dan ke kanan
untuk membenarkan posisi tumitku agar sejajar dengan jamaah yang berdiri
disampigku. Disaat aku menoleh kekanan, aku melihat ada dua orang lelaki turki
berdiri disana sambil berbisik-bisik. Salah seorang mereka menatap tajam ke
arahku, aku hanya tersenyum sambil memberi aba-aba dengan tanganku agar kakinya
bisa disejajarkan dengan kaki jamaah yang lain. Orang turki itu masih saja
menatapku dengan wajah seperti sedang kebingungan.
“you
indonesia or hindia” tiba-tiba
dia melemparkan pertanyaan singkat kearahku
Aku kaget tidak menyangka dia
tiba-tiba mengajak aku berbicara.
“Indonesia”
jawabku singkat
padat
“Masya
Allah” ujarnya
sambil mencolek temannya memberi tau bahwa aku asli orang Indonesia.
Aku hanya tersenyum sambil
menerima ajakan salaman dari mereka berdua. Sepertinya mereka bingung dengan
wajah aku sebagai orang Aceh yang
terkesan mirip dengan orang India.
“Allah Akbar” Imam takbir, kami semua mengikutinya, bacaan dengan
suara merdu sang imam membuat kami hanyut olehnya. Benar-benar sebuah perjalanan
akhir tahun yang sangat menyenangkan. Sekian
Blog Post ini dibuat dalam rangka
mengikuti Writing Project #jalan2INDONESIA yang diselenggarakan Nulisbuku.com,
Storial.co, dan Walk Indies.


