fendihamed91_main_Blog1_1x1_as

Tuesday, May 6, 2014

kalian semua hebat



            Hari ini sedikit melelahkan setelah seharian duduk di auditorium mengikuti pembekalan kuliah pengabdian masyarakat (KPM) reguler tahun 2014 ke Blang Pidie Aceh Barat Daya. Setelah mandi dan menunggu azan magrib tiba-tiba saja saya jadi ingat kedua orang tua saya. Sungguh sebuah perasaan yang sangat luar biasa bahkan melebihi perasaan di saat jatuh cinta.
            Ibu dan Ayah saya yakin kalian berdua pasti tau dan pasti selalu ingat akan tanggal 15 Juli 1991 karena dihari itulah saya lahir kedunia ini, saya tidak tau bagaimana keadaan ibu pada hari itu dan saya juga tidak tau bagaimana kebahagiaan yang terpancar diwajah ayah bahkan saya tidak tau seperti apa wajah saya sendiri disaat baru menghirup udara dunia ini tetapi yang jelas hal yang pertama yang saya lakukan adalah menangis memecah kesunyian dan satu hal lagi yang pasti saya terlahir dengan kulit hitam karena saya memang seorang pemuda yang berkulit hitam, walaupun sekarang teman-teman saya sering mengatakan seorang pria berkulit hitam manis tetapi saya tidak mempercayai itu bahkan sama sekali saya tidak mempercayai.
            6 tahun berlalu, 6 tahun yang pasti di dalamnya penuh dengan berbagai tingkah saya yang membuat kalian terkadang tersenyum dan jengkel, namun tidak pernah terdengar keluhan dan kebencian ibu dan ayah akan saya, justru di usia itu layaknya anak-anak yang lain yang akan menempuh pendidikan formal tingkat MI. Saya juga kalian sekolahkan agar menjadi anak yang hebat dan bisa diandalkan. Pada hari itu saya resmi tercatat sebagai seorang siswa di kelas 1 MIN Panga Pasi dengan nama kebesaran saya EFENDI,sebuah nama pemberian kalian  yang memiliki arti tuan atau orang yang dihoramati, semoga saja nama itu menjadi sebuah doa yang tak terbataskan yang membuat saya termotivasi menjadi seorang yang sukses dunia akhirat menjadi orang kaya akan ilmu dan harta serta baik hatinya dan yang benar-benar pantas dihormati dan disegani bukan justru menjadi orang yang dikucilkan dan dipandang sebelah mata oleh orang-orang.
            Setelah enam tahun menempuh pendidikan di MIN dengan berbagai cerita yang saya lalui didalamnya, termasuk cerita  pergi sekolah tanpa bawa uang jajan sepersenpun, cerita pakai celana yang bukan seragam sekolah dihari pertama sekolah karena belum memiliki celana seragam, cerita gampang nangis jika ditakut-takutin orang, cerita dapat pujian dari ibu diakala shalat berjamaah anak-anak yang lain berisik dan gaduh sedangkan saya sendiri waktu itu shalat dengan khusuk sehingga seorang ibu-ibu salut dan memberikan saya uang 1000 rupiah  dan masih masih banyak cerita konyol lagi lainnya bahkan cerita buang air kecil dicelana yang sungguh luar biasa kalau diingat. Kembali lagi ke hal yang ingin saya katakan, dihari pengambilan ijazah saya masih ingat sekali di waktu itu di dalam ruangan kelas 6 saya ditemanin oleh ayah untuk pengambilan ijazah tetapi saya udah lupa akan nilai saya waktu itu. setelah ijazah udah ditangan ayah, ayah menanyakan sebuah pertanyaan apakah saya ingin melanjutkan ke MTs atau ke SMP, disaat itu saya lebih memilih ke MTs karena teman baik saya waktu itu juga milih MTs dan alasan lainnya MTs sekolahnya tidak harus nyebrang jalan raya karena letaknya hampir berdekatan dengan rumah.
            Selama sekolah di MTsS panga banyak cerita yang saya lalui di dalamnya, cerita rangking saya yang gak pernah naik dan turun yang selalu di angka 9 bahkan guru saya menjuluki saya sebagai anak yang tidak pintar dan anak yang tidak bodoh, cerita menjual ikan hasil tangkapan ayah ke pasar karena ayah seorang nelayan, cerita di cabein mulut dan diikat di sarang semut karena kelakuan saya yang kasar dan berkata jorok, cerita jatuhin uang hasil jual ikan di pasar dan ini cerita yang membuat saya merasa bersalah sampai dengan hari ini karena ayah sudah mencari ikan seharian di sungai panas-panasan tetapi malah saya membuat kesalahan dengan menghilangkan uang hasil jualan ikan itu dan endingnya terpaksa hari itu kami sekeluarga makan dengan makanan seadanya, saya juga pernah mencari abu kilang padi di belakang kilang padi yang cukup besar yang kemudian saya dikasih upah oleh tetangga saya yang lumayan untuk dapat jajan keesokan harinya di sekolah, saya juga suka kumpulin kelapa orang agar dapat upah yang kemudian cukup buat beli es ketika jam istirahat sekolah, saya juga pernah membantu ibu menumpuk tepung suruhan orang di shubuh hari ketika bulan puasa demi memiliki uang di hari raya, karena saya takut tangan saya ketumbuk dengan alat tumbuk yang terbuat dari kayu besar (jeungki) ibu membuat alat khusus dari pelepak kelapa buat saya menyentuh tepung agar tangan saja selamat, ibu benar-benar perhatian akan saya,  dan saya juga pernah menjual kepiting hasil tangkapan ayah saya kepada seorang guru saya, saya antarin ke rumah sang guru, gurunya kelamaan keluar sehingga saja jenuh dan tangan saya iseng mengelus-ngelus bagian jepitan kepitingnya dan endingnya tangan saya dijepit oleh kepiting itu yang akhirnya sulit saya lepasin karena jepitannya terlalu kuat karena teralalu panik saya goyang-goyangin tangan saya sampe kepiting itu terpental jauh. Dan masih banyak cerita lainnya yang mungkin banyak terlupakan bahkan cerita itu terhenti ketika saya baru menempuh pendidikan satu semester di kelas 2 tepatnya pada hari minggu 26 Desember 2004.
            Kini setelah sembilan tahun berlalu, ibu dan ayah sudah tiada, tetapi jasa ayah dan ibu selalu saya ingat, tanpa kasih sayang ayah dan ibu saya mungkin sudah tiada, pengorbanan kalian luar baisa, ayah rela berhari hari disungai demi beberapa ekor ikan dan kepiting dengan perahu tua dan jaring seadanya, ibu juga rela numbuk tepung orang pagi-pagi buta disaat orang masih tertidur, ibu juga rela tidur diladang menjaga padi agar tidak dimakan hama babi bahkan sampai kaki ibu terkilir jatuh dari rangkang (gubuk yang terdapat disawah), sungguh kalian panutan bagi saya untuk terus melangkah tanpa mengeluh, kalian adalah guru besar bagi saya yang mengajarkan akhlak yang baik agar selalu shalat (saya masih ingat kata-kata ibu shalat nak dengan shalat fisik dan hati kamu akan bersih) dan kalian juga yang mengajarkan agar saya tidak nipu dan ngambil punya orang karena lebih baik lapar daripada kenyang dengan hasil menipu orang lain.
            Ibu dan ayah, saya yakin kalian kalian gak bisa baca tulisan ini karena kalian sudah tiada, tetapi tulisan ini sengaja saya bikin sebagai ganti curhat saya kepada kalian berdua, saya kangen untuk sekedar menyapa ayah dan ibu, tetapi saya tidak tau harus menyapa bagaimana, saya tidak peduli tulisan ini bagus atau tidaknya, saya tidak peduli tulisan ini benar atau salah penempatan titik komanya, tetapi ibu dan ayah harus tau saya hari ini baru selesai pembekalan KPM, saya juga lagi proses nyusun skripsi, saya rindu ayah dan ibu, saya rindu omelan kalian.
            Kalian tidak perlu khawatir!!! Abang-abang semua baik sama saya, mereka semua selalu dukung saya bahkan istri mereka dukung saya. Ayah dan ibu harus tau anak mu ini udah besar bahkan sudah mau lulus kuliah, ini menjadi sebuah prestasi yang luar biasa karena hanya saya yang menempuh pendidikan sampe dengan perguruan tinggi yang dulu sempat kita anggap mustahil kita raihnya. Ini semua berkat ALLAH, berkat ibu dan ayah, berkat kakak dan abang-abang, saya benar-benar tidak pantas menyombongkan diri meski kalian tidak tamat SMA karena terbentur biaya tetapi kalian mampu memberi saya pendidikan sampai dengan perguruan tinggi bahkan saya menyelesaikan pendidikan menengah atas di luar aceh... sungguh luar biasa kalian semua luar biasa... terimakasih juga buat-buat teman-teman yang selalu mendukung dan menghibur, terimakasih juga buat adik-adik yang ada di kampus yang tak dapat saya sebutkan satu persatu.... SEKIAN... FENDI..

No comments:

Post a Comment