fendihamed91_main_Blog1_1x1_as

Sunday, January 3, 2016

Banda Aceh

Akhir tahun merupakan waktu yang begitu aku nanti-nanti. Bukan karena perayaan tahun baru yang membuat aku begitu antusias dalam menanti akhir tahun. Tetapi ada satu  momen yang mungkin tidak akan pernah aku lupakan sampai kapanpun. Momen itu bernama peringatan gempa dan   tsunami Aceh.
Tidak terasa waktu mengalir begitu cepat, 11 tahun yang lalu tepatnya tanggal 26 desember 2004 Aceh benar-benar hancur porak poranda tidak menentu. Aku menjadi anak yatim piatu, kedua orang tuaku hilang bersama puing-puing bangunan yang tersapu bersih oleh derasnya air laut pantai barat selatan Aceh itu. Jenazah kedua orang tuaku entah kemana, rumahku hancur rata dengan tanah, sekolahku yang  tinggal hanyalah  nama, benar-benar sebuah keadaan yang membuat aku hampir putus asa.
Meski pahit, bencana dahsyat itu bukan untuk diratapi. Banyak hikmah yang Tuhan berikan melalui bencana alam  tersebut. Perdamaian  pertingkaian antara RI dan GAM menjadi salah satu contohnya. Seandainya Aceh tidak damai dari perang saudara itu, akan banyak tempat-tempat wisata di Aceh yang akan terabaikan begitu saja.
Hari ini kalender tepat pada tanggal 26 desember 2015. Sudah menjadi tradisi bagi rakyat Aceh pada setiap tahunnya untuk memperingati gempa dan tsunami tersebut. Aku sebagai putra asli Aceh dan juga seorang korban bencana tsunami rasanya tidak begitu lengkap jika aku tidak mengenang bencana itu.
Aku bergegas memasukkan baju  kedalam  ransel yang berukuran sedang dari lemari kecil yang berdiri disudut kamarku. Tujuanku hanya satu, aku ingin sekali berkunjung ke Banda Aceh meski jaraknya lumayan jauh dari kampungku dibagian Meulaboh. Banda Aceh akan menjadi tempat yang tepat bagiku untuk mengenang bencana besar itu. Aku mengambil sepeda motor putihku yang terparkir rapi di halaman rumah, aku memacunya gagah dengan ransel menempel indah di punggungku. Aku mampir sejenak di SPBU Calang  untuk mengisi bahan bakar kendaraanku.
Butuh waktu 3 jam perjalanan untuk sampai di ibukota provinsi Aceh tersebut. Jalanan luas terbentang bebas dari lobang membuat sensasi perjalanan darat begitu menyenangkan. Pemandangan indah pantai Aceh begitu memanjakan mata. Bukit-bukit kecil menanjak dikelilingi perkebunan duren terasa sangat sejuk. Ditambah lagi dengan pesona indahnya pemandangan laut dari atas gunung gurutee membuat perjalanan begitu singkat.
Tak terasa aku akhirnya sampai juga di kota Banda Aceh. Jam sudah menunjukkan pukul 2 siang, aku memutuskan untuk melaksanakan shalat zuhur di Masjid Ulee lheu Banda Aceh. Masjid itu menjadi salah satu saksi bisu begitu kerasnya hantaman ombak besar yang menelan ratusan ribu jiwa itu.
Suasana di Masjid yang pernah dikunjungi oleh mega bintang  sepakbola Cristiano Ronaldo itu begitu tenang, aku sangat menikmati menjalankan salah satu kewajibanku sebagai seorang muslim disana.Setelah melaksanakan shalat aku bergegas keluar. Jalanan didepan bagitu padat, banyak orang hilir mudik memasuki gerbang menuju pelabuhan penyebrangan Banda Aceh – Sabang.
Aku menatap ke arah kuburan massal yang berjarak sekitar 150 meter dari Masjid Ulee Lheu. Banyak orang keluar masuk ke komplek makam massal korban bencana alam gempa dan tsunami tersebut. Aku melangkah menuju kesana. Sengatan panas sinar matahari tidak aku hiraukan, langkah kakiku begitu bersemangat untuk sesegera mungkin sampai disana. Sesampai di komplek makam tersebut aku hanya menatap dengan tatapan kosong ke arah hamparan luas tanah yang sudah ditumbuhi rumput itu. Mulutku terbungkam, mata aku sudah mulai berkaca-kaca. Aku terduduk diam diatas tembok yang roboh sisa tsunami sebelas tahun yang lalu. Aku benar-benar tidak bisa menahan diri, aku menghusap air mata yang mulai jatuh membasahi kedua pipiku. Sebisa mungkin aku menyembunyikan perasaan sedihku agar tidak dilihat oleh orang-orang yang sedang berdo’a dimakam itu. Aku bangun dari dudukku, aku tidak sanggup menahan sedih, aku pergi keluar mengambil sepeda motorku.
Aku menancap gas lagi, tujuan aku berikutnya adalah satu komplek perumahan yang terletak di tengah-tengah kota Banda Aceh. Disana terdapat sebuah kapal apung pembangkit listrik besar, mungkin bagi orang yang pertama sekali melihatnya akan terlihat aneh, sangat sulit dipercaya. Bagaimana mungkin kapal sebesar itu bisa berada ditengah-tengah pemukiman warga. Tetapi sekarang semua nampak nyata, kapal yang tadinya bersandar di pelabuhan Ulee Lheu itu terhempas kurang lebih 3 kilometer dari posisi awal dia berada disaat tsunami tiba.
Kapal yang berbadan besar kini sudah disulap menjadi objek wisata tsunami oleh pemerintah kota Banda Aceh karena tidak ada cara untuk membawa kapal itu kembali keposisi awal dia berada di pelabuhan Ulee Lheu.
Disekitaran kapal apung tersebut terdapat taman yang begitu indah, didalam taman tersebut terdapat jalan yang terbuat dari susunan papan, diujung jalan terdapat sebuah tembok besar tempat ditempelnya foto-foto kenangan ketika Aceh masih porak-poranda karena tsunami. Di bagian depan pintu gerbang masuk komplek kapal apung terdapat sebuah tugu jam berukuran lumayan besar yang dibuat seolah-olah sedang digulung oleh ombak besar. Jarum pada jam tersebut menunjukkan pukul delapan kurang lima menit. Angka delapan kurang lima menit itu merupakan detik-detik terjadi tsunami di Aceh. Disamping tugu itu terdapat jalan gantung yang di tompang dengan besi untuk akses menuju ke atas kapal apung. Dari atas kapal apung kita bisa melihat setiap sudut kota Banda Aceh dari ketinggian, hamparan lautan luas juga begitu memanjakan mata, museum tsunami karya  Ridwan Kamil walikota Bandung juga terlihat begitu mewah di dekat taman kota Banda Aceh, Masjid Raya Baiturrahman tujuan wisatawan dalam dan luar negeri juga terlihat jelas disana.
Merasa sudah puas mutar-mutar di kapal PLTD apung. Aku melanjutkan perjalanan akhir tahunku menuju sebuah gedung megah yang berdiri disudut jalan blang padang. Gedung yang mirip dengan bentuk perahu itu dikenal dengan sebutan dengan Museum tsunami. Letak museum tsunami tidak jauh dari PLTD apung, hanya butuh beberapa menit saja untuk menuju museum tsunami dari kapal apung.
Museum tsunami selalu penuh dikunjungi oleh wisatawan. Ketika sampai di pintu museum, pengunjung akan dibawa merasakan nuansa mencekam di dalam lorong kegelapan, tidak ada lampu penerang disana, hanya terdengar sayup-sayup suara lantunan ayat suci Al-Qur’an diiringi dengan suara air yang sengaja dialiri di sisi kiri dan kanan tembok lorong yang kita lewati itu.
Setelah melewati lorong yang sangat gelap itu. Pengunjung akan bertemu dengan sebuah ruangan yang terbentang luas. Diruangan itu terdapat banyak sekali layar elektronik yang menampilkan foto-foto ketika Aceh masih berduka di saat Tsunami 2004 silam. Aku memilih tidak melihat layar elektronik tersebut. Hatiku benar-benar belum sepenuhnya kuat kehilangan kedua orang tua disaat usia aku masih terlalu muda. Aku memilih terus melangkah ke bagian atas gedung yang bewarna abu-abu itu. Jalan untuk menuju ke atas menanjak dan sedikit berkelok layaknya jalan raya. Disisi kiri jalan akses menuju ke atas terdapat sebuah ruangan yang sedikit bundar, di dinding ruangan itu terpajang nama-nama korban tsunami yang hilang entah kemana. Dibagian atas ruangan itu terdapat sebuah corong layaknya corong yang terdapat pada kapal. Jika kita menatap ke atas akan terlihat jelas di ujung corong tersebut terdapat kaligrafi nama Allah. Benar-benar sebuah gedung kelas dunia yang tidak menghilangkan ciri khas kehidupan sehari-hari orang Aceh yang terkenal kental dengan agama dan budaya. Setelah puas aku melihat-melihat ruangan yang penuh nama-nama manusia itu. Aku kembali melangkah menuju bagian atas gedung museum. Sebelum benar-benar sampai dilantai atas, pengunjung terlebih dahulu melewati sebuah jembatan beralaskan papan yang terpasang rapi yang berdindingkan kaca bening. Dibawah jembatan itu terdapat sebuah kolam yang dikelilingi oleh beton-beton bundar layaknya bola besar. Bendera-bendera dari berbagai negara juga terpasang kuat dibagian langit-langit bangunan tepat di atas jembatan. Melihat bendera itu aku menarik nafas dalam. Aku memetik pelajaran penting dari bendera-bendera kecil yang terpasang berjajar itu, pelajaran penting yang aku ambil adalah begitu pentingnya rasa persaudaraan antar umat manusia meski ada banyak perbedaan yang tidak mungkin bisa disatukan.
Di bagian atas museum pengunjung akan dimanjakan dengan berbagai alat simulasi tsunami. Dengan melihat itu kita tidak hanya mendapatkan keuntungan jalan-jalannya tetapi juga mendapatkan berbagai ilmu yang begitu sangat penting dalam menghadapi bencana alam yang bisa datang kapan saja. Museum tsunami Aceh juga terdapat sebuah rauang teather yang menampilkan video detik-detik terjadinya bencana gempa dan tsunami. Wajar saja jika para wisatawan menjadikan museum tsunami Aceh sebegai salah satu tujuan utamanya disaat berkunjung ke Provinsi yang terkenal dengan banyaknya kedai kopi itu.
Setelah beberapa jam mutar-mutar di museum tsunami. Aku kembali bergerak menuju Masjid kebanggaan rakyat Aceh yaitu Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh. Untuk menuju ke Masjid Raya Baiturrahman hanya butuh waktu 5 menit dari gedung museum tsunami. Disaat aku melintas jalan Blang Padang aku sempat melihat sebuah tugu yang terdapat pesawat diatasnya. Pesawat itu begitu spesial bagi rakyat Indonesia. Pesawat tersebut merupakan sumbangan rakyat Aceh untuk Republik Indonesia dalam  memperjuangkan kemerdekaan dari penjajahan Belanda.
Sepanjang perjalanan aku sangat menikmati nuansa kota yang terkenal dengan penerapan syari’at Islam itu, jalanan di kota Banda Aceh begitu luas, sangat jarang terjadi kemacetan disana. Geliat perputaran ekonomi juga begitu lancar. Pasar Aceh yang letaknya tepat dibelakang Masjid Raya Baiturrahman selalu padat dikunjungi oleh masyarakat. Tidak terasa aku sudah sampai di Masjid yang memiliki 5 kubah itu. Aku parkirkan sepeda motorku di parkiran bagian selatan Masjid, aku bergegas mengambil wudhu untuk menunaikan shalat ashar, aku sudah sangat telat untuk melaksanakan shalat ashar, jam sudah menunjukkan pukul setengah enam.
Setelah melaksanakan shalat ashar aku kembali keluar. Diluar orang begitu ramai, lebih ramai dari hari-hari sebelumnya disaat aku berkunjung ke Masjid Raya baiturrahman. Hari ini mungkin kenyamanan dan kesempatan untuk para wisatawan untuk menikmati bagian luar masjid raya Baiturrahman sedikit terganggu. Masjid Raya Baiturrahman sedang direnovasi besar-besaran dengan menelan biaya mencapai satu koma empat triliun rupiah, rencananya Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh akan memiliki parkiran di bawah tanah, di bagian depannya akan di bangun payung-payung raksasa layaknya di Masjid Nabawi Madinah. Masjid Raya Baiturrahman akan dijadikan pusat kajian Islam di serambi mekkah, proyek besar itu diperkirakan akan selesai tahun 2017 mendatang.
Meski sedang direnovasi, daya tarik masjid yang menjadi saksi bisu tumbangnya seorang jenderal belanda yang bernama Johan Harmen Rudolf Kohler ditangan pejuang Aceh pada 14 april 1873 silam tidak pudar. Masjid Baiturrahman benar-benar memiliki magnet yang sangat kuat untuk membuat setiap orang yang datang ke Aceh untuk mampir disana, tidak hanya orang yang beragama Islam saja yang mengunjungi bangunan yang akrab disapa Masjid raya itu, tetapi umat beragama lain juga banyak yang mengunjunginya meski hanya untuk sekedar foto-foto di halaman depannya saja. Halaman depan Masjid raya sebelum direnovasi memiliki keindahan yang menurut aku hampir sama dengan bangunan Taj Mahal di India. Di halaman Masjid raya terdapat sebuah menara yang menjulang tinggi, menara itu sekarang sedikit miring akibat goncangan gempa 2004 silam. Selain menara tinggi, Masjid raya juga memiliki kolam pancuran air yang berukuran sedang, jika sore hari tiba disekeliling kolam itu banyak anak-anak yang di dampingi oleh orang tuanya duduk disana, mereka tidak hanya duduk diam, tetapi mereka asik bermain-main dengan ikan air tawar yang terdapat di dalam kolam dengan cara menaburkan pakan yang dijual oleh pedagang disekitaran komplek masjid.
Bagian depan  Masjid Raya baiturrahman menjadi tempat favorit bagi pengunjung untuk berselfie ria, sangking banyaknya yang gemar selfie disana, rumput-rumput di pinggir kolam mati dengan sendirinya karena keinjak-injak oleh pengunjung yang ingin berfoto dengan latar belakang Masjid yang terdapat jam di bagian depan bangunannya itu.
Tidak terasa hari sudah hampir magrib, suara merdu lantunan ayat Al-Qur’an yang dibacakan oleh Qori mulai terdengar dari setiap sudut Masjid yang pernah dibakar oleh Belanda itu. Orang-orang yang tadinya asik dengan kegiatannya masing-masing terlihat mulai bergerak mencari tempat wudhu. Petugas Masjid terlihat memegang pengeras suara sambil menyerukan para pengunjung untuk segera bergerak mengambil air wudhu.
Sambil melangkah ketempat wudhu, aku melihat di pintu gerbang ada sebuah pemandangan menarik dan unik untuk disimak. Disana berdiri seorang petugas berpakaian satpam membagikan kain sarung kepada pengunjung wanita yang mengenakan celana yang terkesan ketat. Tidak ada pemaksaan dari petugas, pengunjung wanita dengan rela tersenyum kecil menerima kain sarung yang disodorkan oleh petugas. Mungkin bagi orang-orang yang baru datang ke Aceh hal itu sedikit aneh, tetapi tidak bagi kami orang Aceh asli. Orang Aceh sudah terbiasa dengan aturan seperti itu, karena Aceh punya aturan tersendiri untuk menjalankan syari’at Islam. Ya meskipun belum berjalan sempurna tetapi setidaknya pemerintah Aceh telah mencobanya.
Aku sudah tiba ditempat wudhu, aku segera berwudhu, azan sudah berkumandang di dalam Masjid. Aku melangkah masuk ke Masjid. Perasaan nyaman dan tenang muncul disaat menginjakkan kaki disana. Shaf-shaf shalat bagian depan sudah terisi penuh. Aku berdiri di shaf keenam bagian belakang menunggu iqamat. Masjid terus terisi oleh pengunjung yang dari tadi masih diluar. Terlihat muazin berdiri mendekati mic untuk iqamat. Orang-orang yang tadinya duduk semua bangkit untuk melaksanakan shalat magrib secara berjamaah.
Aku melangkah maju ke shaf kelima. Terdengar suara imam memerintahkan kepada jamaah semua untuk meluruskan dan merapatkan shaf sebagai kesempurnaan shalat.
lurus dan rapatkan shaf, mohon yang membawa hp untuk menonaktifkannya” begitu kata imam yang berdiri dibagian depan.
Aku menoleh kiri dan ke kanan untuk membenarkan posisi tumitku agar sejajar dengan jamaah yang berdiri disampigku. Disaat aku menoleh kekanan, aku melihat ada dua orang lelaki turki berdiri disana sambil berbisik-bisik. Salah seorang mereka menatap tajam ke arahku, aku hanya tersenyum sambil memberi aba-aba dengan tanganku agar kakinya bisa disejajarkan dengan kaki jamaah yang lain. Orang turki itu masih saja menatapku dengan wajah seperti sedang kebingungan.
“you indonesia or hindia” tiba-tiba dia melemparkan pertanyaan singkat kearahku
Aku kaget tidak menyangka dia tiba-tiba mengajak aku berbicara.
“Indonesia” jawabku singkat padat
“Masya Allah” ujarnya sambil mencolek temannya memberi tau bahwa aku asli orang Indonesia.
Aku hanya tersenyum sambil menerima ajakan salaman dari mereka berdua. Sepertinya mereka bingung dengan wajah  aku sebagai orang Aceh yang terkesan mirip dengan orang India.
Allah Akbar” Imam takbir, kami semua mengikutinya, bacaan dengan suara merdu sang imam membuat kami hanyut olehnya. Benar-benar sebuah perjalanan akhir tahun yang sangat menyenangkan. Sekian

Blog Post ini dibuat dalam rangka mengikuti Writing Project #jalan2INDONESIA yang diselenggarakan Nulisbuku.com, Storial.co, dan Walk Indies.

No comments:

Post a Comment