Hari ini sedikit melelahkan setelah
seharian duduk di auditorium mengikuti pembekalan kuliah pengabdian masyarakat
(KPM) reguler tahun 2014 ke Blang Pidie Aceh Barat Daya. Setelah mandi dan
menunggu azan magrib tiba-tiba saja saya jadi ingat kedua orang tua saya. Sungguh
sebuah perasaan yang sangat luar biasa bahkan melebihi perasaan di saat jatuh
cinta.
Ibu dan Ayah saya yakin kalian
berdua pasti tau dan pasti selalu ingat akan tanggal 15 Juli 1991 karena dihari
itulah saya lahir kedunia ini, saya tidak tau bagaimana keadaan ibu pada hari
itu dan saya juga tidak tau bagaimana kebahagiaan yang terpancar diwajah ayah
bahkan saya tidak tau seperti apa wajah saya sendiri disaat baru menghirup
udara dunia ini tetapi yang jelas hal yang pertama yang saya lakukan adalah
menangis memecah kesunyian dan satu hal lagi yang pasti saya terlahir dengan
kulit hitam karena saya memang seorang pemuda yang berkulit hitam, walaupun
sekarang teman-teman saya sering mengatakan seorang pria berkulit hitam manis
tetapi saya tidak mempercayai itu bahkan sama sekali saya tidak mempercayai.
6 tahun berlalu, 6 tahun yang pasti
di dalamnya penuh dengan berbagai tingkah saya yang membuat kalian terkadang
tersenyum dan jengkel, namun tidak pernah terdengar keluhan dan kebencian ibu
dan ayah akan saya, justru di usia itu layaknya anak-anak yang lain yang akan
menempuh pendidikan formal tingkat MI. Saya juga kalian sekolahkan agar menjadi
anak yang hebat dan bisa diandalkan. Pada hari itu saya resmi tercatat sebagai
seorang siswa di kelas 1 MIN Panga Pasi dengan nama kebesaran saya EFENDI,sebuah
nama pemberian kalian yang memiliki arti
tuan atau orang yang dihoramati, semoga saja nama itu menjadi sebuah doa yang
tak terbataskan yang membuat saya termotivasi menjadi seorang yang sukses dunia
akhirat menjadi orang kaya akan ilmu dan harta serta baik hatinya dan yang
benar-benar pantas dihormati dan disegani bukan justru menjadi orang yang
dikucilkan dan dipandang sebelah mata oleh orang-orang.
Setelah enam tahun menempuh
pendidikan di MIN dengan berbagai cerita yang saya lalui didalamnya, termasuk
cerita pergi sekolah tanpa bawa uang
jajan sepersenpun, cerita pakai celana yang bukan seragam sekolah dihari
pertama sekolah karena belum memiliki celana seragam, cerita gampang nangis
jika ditakut-takutin orang, cerita dapat pujian dari ibu diakala shalat
berjamaah anak-anak yang lain berisik dan gaduh sedangkan saya sendiri waktu
itu shalat dengan khusuk sehingga seorang ibu-ibu salut dan memberikan saya
uang 1000 rupiah dan masih masih banyak
cerita konyol lagi lainnya bahkan cerita buang air kecil dicelana yang sungguh
luar biasa kalau diingat. Kembali lagi ke hal yang ingin saya katakan, dihari
pengambilan ijazah saya masih ingat sekali di waktu itu di dalam ruangan kelas
6 saya ditemanin oleh ayah untuk pengambilan ijazah tetapi saya udah lupa akan
nilai saya waktu itu. setelah ijazah udah ditangan ayah, ayah menanyakan sebuah
pertanyaan apakah saya ingin melanjutkan ke MTs atau ke SMP, disaat itu saya
lebih memilih ke MTs karena teman baik saya waktu itu juga milih MTs dan alasan
lainnya MTs sekolahnya tidak harus nyebrang jalan raya karena letaknya hampir
berdekatan dengan rumah.
Selama sekolah di MTsS panga banyak
cerita yang saya lalui di dalamnya, cerita rangking saya yang gak pernah naik
dan turun yang selalu di angka 9 bahkan guru saya menjuluki saya sebagai anak
yang tidak pintar dan anak yang tidak bodoh, cerita menjual ikan hasil
tangkapan ayah ke pasar karena ayah seorang nelayan, cerita di cabein mulut dan
diikat di sarang semut karena kelakuan saya yang kasar dan berkata jorok,
cerita jatuhin uang hasil jual ikan di pasar dan ini cerita yang membuat saya
merasa bersalah sampai dengan hari ini karena ayah sudah mencari ikan seharian
di sungai panas-panasan tetapi malah saya membuat kesalahan dengan
menghilangkan uang hasil jualan ikan itu dan endingnya terpaksa hari itu kami
sekeluarga makan dengan makanan seadanya, saya juga pernah mencari abu kilang
padi di belakang kilang padi yang cukup besar yang kemudian saya dikasih upah
oleh tetangga saya yang lumayan untuk dapat jajan keesokan harinya di sekolah,
saya juga suka kumpulin kelapa orang agar dapat upah yang kemudian cukup buat
beli es ketika jam istirahat sekolah, saya juga pernah membantu ibu menumpuk
tepung suruhan orang di shubuh hari ketika bulan puasa demi memiliki uang di
hari raya, karena saya takut tangan saya ketumbuk dengan alat tumbuk yang
terbuat dari kayu besar (jeungki) ibu membuat alat khusus dari pelepak kelapa
buat saya menyentuh tepung agar tangan saja selamat, ibu benar-benar perhatian
akan saya, dan saya juga pernah menjual
kepiting hasil tangkapan ayah saya kepada seorang guru saya, saya antarin ke
rumah sang guru, gurunya kelamaan keluar sehingga saja jenuh dan tangan saya
iseng mengelus-ngelus bagian jepitan kepitingnya dan endingnya tangan saya
dijepit oleh kepiting itu yang akhirnya sulit saya lepasin karena jepitannya
terlalu kuat karena teralalu panik saya goyang-goyangin tangan saya sampe
kepiting itu terpental jauh. Dan masih banyak cerita lainnya yang mungkin
banyak terlupakan bahkan cerita itu terhenti ketika saya baru menempuh pendidikan
satu semester di kelas 2 tepatnya pada hari minggu 26 Desember 2004.
Kini setelah sembilan tahun berlalu,
ibu dan ayah sudah tiada, tetapi jasa ayah dan ibu selalu saya ingat, tanpa
kasih sayang ayah dan ibu saya mungkin sudah tiada, pengorbanan kalian luar
baisa, ayah rela berhari hari disungai demi beberapa ekor ikan dan kepiting
dengan perahu tua dan jaring seadanya, ibu juga rela numbuk tepung orang
pagi-pagi buta disaat orang masih tertidur, ibu juga rela tidur diladang
menjaga padi agar tidak dimakan hama babi bahkan sampai kaki ibu terkilir jatuh
dari rangkang (gubuk yang terdapat disawah), sungguh kalian panutan bagi saya
untuk terus melangkah tanpa mengeluh, kalian adalah guru besar bagi saya yang
mengajarkan akhlak yang baik agar selalu shalat (saya masih ingat kata-kata ibu
shalat nak dengan shalat fisik dan hati
kamu akan bersih) dan kalian juga yang mengajarkan agar saya tidak nipu dan
ngambil punya orang karena lebih baik lapar daripada kenyang dengan hasil
menipu orang lain.
Ibu dan ayah, saya yakin kalian
kalian gak bisa baca tulisan ini karena kalian sudah tiada, tetapi tulisan ini
sengaja saya bikin sebagai ganti curhat saya kepada kalian berdua, saya kangen
untuk sekedar menyapa ayah dan ibu, tetapi saya tidak tau harus menyapa bagaimana,
saya tidak peduli tulisan ini bagus atau tidaknya, saya tidak peduli tulisan
ini benar atau salah penempatan titik komanya, tetapi ibu dan ayah harus tau
saya hari ini baru selesai pembekalan KPM, saya juga lagi proses nyusun
skripsi, saya rindu ayah dan ibu, saya rindu omelan kalian.
Kalian tidak perlu khawatir!!! Abang-abang
semua baik sama saya, mereka semua selalu dukung saya bahkan istri mereka dukung
saya. Ayah dan ibu harus tau anak mu ini udah besar bahkan sudah mau lulus
kuliah, ini menjadi sebuah prestasi yang luar biasa karena hanya saya yang
menempuh pendidikan sampe dengan perguruan tinggi yang dulu sempat kita anggap
mustahil kita raihnya. Ini semua berkat ALLAH, berkat ibu dan ayah, berkat
kakak dan abang-abang, saya benar-benar tidak pantas menyombongkan diri meski
kalian tidak tamat SMA karena terbentur biaya tetapi kalian mampu memberi saya
pendidikan sampai dengan perguruan tinggi bahkan saya menyelesaikan pendidikan
menengah atas di luar aceh... sungguh luar biasa kalian semua luar biasa...
terimakasih juga buat-buat teman-teman yang selalu mendukung dan menghibur,
terimakasih juga buat adik-adik yang ada di kampus yang tak dapat saya sebutkan
satu persatu.... SEKIAN... FENDI..





