“PELAJARAN DARI PERINGATAN 9 TAHUN TSUNAMI”
Bagi masyarakat Aceh minggu 26 Desember 2004 merupakan hari yang
tak pernah terlupakan, di pagi yang sejuk suasana yang tenang tiba-tiba berubah
menjadi sebuah kepanikan, gempa berkuatan yang sangat tinggi menguncang serambi
mekkah, Ketika gempa berhenti wajah penuh keheranan masih terlukis di wajah
warga nanggroe seramoe mekkah, belum sepenuhnya hilang rasa kepanikan akibat
gempa warga kembali di kagetkan dengan suara gemuruh yang datang dari arah laut
di ikuti dengan suara teriakan “ie laot ka di ek, plung plung!!!” (air laut
naik, lari-lari) warga pun berhamburan lari ke daerah yang lebih tinggi dan
menjauh dari arah bibir pantai, ada yang selamat tanpa tersentuh oleh terjangan
ombak air laut, ada yang selamat setelah bersusah payah dalam terjangan ombak
besar, ada yang mengalami luka patah dan sebagainya dan bahkan ada yang menemui
ajalnya di pagi minggu itu.
Sedih itu lah sebuah kalimat yang
pantas kita katakan, bagaimana tidak dalam sekejap harta benda yang selama ini
kita banggakan dan kita cintai hilang melayang, banyak anak kehilangan ibunya,
kehilangan ayahnya, atau kehilangan keduanya, banyak istri yang berubah status
menjadi janda, banyak suami yang harus hidup bersama anak-anaknya tanpa
kehadiran seorang ibu tercinta, tetapi inilah kehendak yang Maha Kuasa yang
penuh hikmah didalamnya.
Kini (26-12-2013) 9 tahun sudah
bencana dahsyat itu telah meninggalkan kita, meskipun diantara kita tumbuh
besar tanpa seorang ibu, tanpa seorang ayah atau bahkan tanpa mereka keduanya
disisi kita karena telah wafat ketika bencana itu menerpa tanah tercinta, kita
sebagai generasi penerus tetap harus tegar, semangat dan tak kenal putus asa.
Angka 9 merupakan angka yang besar, dan semoga saja kita dapat mengambil ibrah
atau pelajaran dari peringatan 9 tahun tsunami tersebut. Ada beberapa pelajaran
yang bisa kita ambil diantaranya adalah sebagai berikut:
Yang pertama : Kita menyadari bahwa
kita ini hamba ALLAH yang sangat kecil lagi lemah, kita tak berdaya tanpa
kuasa-Nya, Tsunami telah memberi kita pengajaran bagaimana kita lemah dan
sangat lemah, dalam hitungan detik semua yang kita cintai dan selama ini kita
banggakan bisa hilang begitu saja, dihari itu Cuma satu pasang baju yang
tersisa di badan itu pun kalau ada karena banyak korban yang kita lihat tak
tersisa pakaian yang ia kenakan. Jadi dengan itu mari kita intropeksi diri,
jangan pernah sombong karena sesungguhnya kita hanya titipan sesaat, jangan
bangga dengan kekayaan karena kita bisa miskin dalam sekejap, jangan bangga
kita punya wajah yang menawan karena bisa jadi wajah itu ALLAH ambil kapan pun
yang ALLAH mau, jangan pernah kita menghina orang lain karena bisa jadi kita
akan hina dalam waktu yang cepat dihadapan-Nya.
Yang Kedua : dengan momentum peringatan Sembilan tahun tsunami marilah kita
menyadari diri bahwa kita tidak bisa hidup tanpa bersosial dengan orang lain,
coba seandainya kita bermusuhan dengan orang lain tentu tak ada satupun yang
akan menolong kita (warga aceh) disaat kita lemah tanpa daya. Ingat dengan
sebuah hadits yang menyebutkan bahwa sebaik-baik orang adalah orang yang
bermanfaat bagi orang lain. Mulailah sekarang kita mencintai orang yang ada
disekitar kita, jangan pernah ada pertengkaran di dalamnya karena sungguh damai
itu sangat indah tiada tara, jadilah orang yang dengan kehadirannya tidak
menjadi ‘sampah’ tetapi menjadi anugrah sebagai sebuah kebaikan buat diri
sendiri, masyarakat dan juga agama.
Yang terakhir: dengan adanya tsunami (26-12-2004) kita harus terbangun dari tidur
panjang kita, bahwa kita ini milik ALLAH dan akan kembali padanya, akankah kita
kembali kepada-Nya dalam keadaan husnul khatimah (akhir yang baik)atau justru
akan kembali dalam keadaan Suulkhatimah (akhir yang buruk). Semua akhir dari
kehidupan kita yang menentukan karena kita telah diminta untuk memilih 2
pilihan antara jalan yang sesat dan selamat, semoga saja dengan momentum 9
tahun tsunami kita benar-benar terbangun bahwa setiap detik malaikat maut
selalu siap untuk menarik nyawa kita… sesungguhnya setiap yang bernyawa
pasti akan mengalami kematian…. SEKIAN (efendi)